Workshop Mineralogy and Metallurgy: Mine Could Be Main Source of Income Indonesia

  • Post category:News

“Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Orang bilang tanah kita tanah surga Tongkah kayu dan batu jadi tanaman” –Koes Plus-

Lagu dari Koes Plus band Indonesia yang terkenal ditahun 70-an menjadi pembuka pada acara Workshop Hasil Penelitian Mineralogi dan Metalurgi: “ Menguak Kekayaan Sumber Daya Mineral Indonesia”. Pusat Penelitian Peradaban memaparkan hasil ekspedisinya mengarungi pulau jawa (mulai Banyuwangi hingga Banten) untuk meneliti hasil bumi yang dihasilkan pulau Jawa.

Acara ini dibuka oleh Prof. Dr. Ir Bambang Suharto, MS selaku Pembantu Rektor I bertempat di Auditorium Lantai 6 Gedung A Fakultas Hukum, dan dihadiri oleh 200 mahasiswa, undangan, dan dosen. Pembicara yang menyajikan materi antara lain, Dr. Moh. Fadli, S.H., M.H sebagai penganggungjawab sekaligus ketua penelitian mineralogi, Sutoyo B.Sc sebagai pengusaha dan peneliti batuan, Agus Hendratno, S.T.,M.T sebagai ahli geoligi Fakultas Teknik UGM, dan Drs. Adi Susilo, M.Si.,Ph.D sebagai ketua Jurusan Fisika FMIPA UB dengan moderator Muhammad Lutfi yang membawakan acara workshop dengan menarik.

Indonesia sangat kaya akan hasil-hasil alamnya, akan tetapi hingga kini sumber-sumber mineral yang begitu banyaknya belum bisa menjadi sumber utama pendapatan Indonesia, oleh karena itulah, generasi muda sebagai ujung tombak masa depan bangsa ini, harus menguasai ilmu tentang sumber daya mineral sehingga dapat mengolahnya atau setidaknya paham proses pengolahannya.
Dari segi hukum, semestinya diberikan kewenangan yang lebih kepada daerah untuk mengatur proses penambangan/mining. Adapun tiga macam hubungan yang seharusnya terjalin dengan baik, yaitu mengatur hubungan antara negara dengan minerall dan batubara, mengatur hubungan antara negara dengan subyek hukum (korporasi dan/atau masyarakat), dan mengaatur hubungan antara pengusaha tambang dan masyarakat.
“Para penguasa juga seharusnya paham akan ilmu mineralogi dan metalurgi, karena merekalah yang seharusnya mengaturnya. Seperti jaman dahulu ketka Indonesia masih berupa kerajaan, setiap Raja pasti paham akan ilmu mineralurgi dan metalurgi, sehingga kerajaannya bisa terhidupi dengan baik.” ujar Sutoyo B. Sc.
Pada Workhsop ini, Bapak Sutoyo B.Sc juga memamerkan hasil percobaannya pada tanah uruk di wilayah Malang Selatan, khususnya di daerah Bandara Abdul Rahman Saleh. Rupanya seteah diolah dengan tekhnologi yang sangat sederhana, tanah uruk tersebut mempunyai nilai jual tinggi, dan mengandung banyak logam mulia yang harganya sangat mahal.

Besar harapan para pembicara agar para mahasiwa Brawijaya yang hadir dalam workshop ini untuk dapat menjadi agen-agen perubahan sehingga industri penambangan Indonesia kedepannya akan membawa Indonesia menjadi yang terbaik di dunia. (ea)