Sempro Bahrul : Demokrasi Dalam Masyarakat Hukum Adat Baduy

  • Post category:News

Malang (PSIKnews) – Indonesia adalah negara dengan khazanah kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Salah satu kekayaan tersebut nampak dari kehidupan suku baduy. Suku baduy mendiami wilayah kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung.

Keunikan suku baduy ternyata tidak hanya bisa dijumpai dalam cara mereka berinteraksi ataupun berpakaian saja, namun juga pada cara mereka dalam memilih raja/puun. Suku yang sangat menjaga kelestarian alam ini memilih puun mereka berdasarkan wangsit yang diterima oleh puun sebelumnya. Keunikan inilah yang coba dibahas oleh Bahrul Ulum dalam seminar proposalnya (sempro), kamis (13/6) di ruang sidang 1 lt6 gedung A FH UB. Hadir sebagai penguji, Herlin Wijayati, SH., MH., dan M. Dahlan, SH., MH.

Menggunakan metode yuridis empiris, Bahrul melakukan riset langsung ke wilayah pemukiman suku baduy. Dalam penelitiannya, Bahrul menemukan bahwa konsep demokrasi telah diterapkan oleh masyarakat hukum adat baduy. Konsep demokrasi ini nampak pada tahapan-tahapan yang dilalui dalam pemilihan ketua adat/raja/puun. Harapannya, pemerintah lebih banyak memperhatikan kondisi masyarakat adat beserta dinamika sosialnya melalui upaya penelitian terhadap masyarakat adat itu sendiri. (alfa)