(Profil) Dr. Lucky Endrawati, SH MH : Mendidik Moral Mahasiswa

  • Post category:News

Malang, 11/05/2013 – Barangkali nama Dr. Lucky Endrawati SH, MH sudah tak asing lagi di kalangan mahasiswa Fakultas Hukum UB. Wanita yang lahir di Pasuruan 16 Maret 1975 ini merupakan seorang dosen konsentrasi Pidana sekaligus ketua PPHG (Pusat Pengembangan Hukum dan Gender) di Fakultas Hukum UB. Beliau ternyata juga memulai studi hukumnya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya tahun 1993 sampai dengan 1997. Setelah mendapat gelar sarjana, beliau melanjutkan program magister hukum di Universitas Airlangga (2000-2002) dan merampungkan program doktor nya di Universitas Diponegoro tahun 2012 kemarin.
Selain dikenal sebagai dosen dan ketua PPHG, baru-baru ini beliau menjabat sebagai KPS (Ketua Program Studi) S1. Salah satu tugas KPS yang populer dikalangan mahasiswa adalah mengawasi dan menertibkan aturan bagi mahasiswa program S1. Sebagian mahasiswa FH berpendapat aturan di Fakultas Hukum menjadi lebih ketat dari biasanya setelah beliau menjabat. Seperti hal nya mengenai absensi, tahun ini mahasiswa tidak diperbolehkan izin atau menggunakan surat sakit tanpa menghadap KPS. Fakultas Hukum atas usul Dr. Lucky Endrawati SH, MH akhirnya memilah-milah tugas antara Dosen dan Akademik. Menurut beliau, tugas dosen hanya mengajar dan memberikan nilai, sedangkan terkait absensi adalah jobdesk akademik. Dosen tidak lagi direpotkan dengan masalah absensi, hal itu ditakutkan mengganggu kegiatan perkuliahan. Tak sampai disitu, beliau juga sangat menentang adanya budaya titip absen (TA) di kalangan mahasiswa. Tak segan-segan sanksi yang diberikan dapat berupa mengetik ulang KUHP dengan mesin tik biasa dalam waktu 3 hari sampai berupa pembatalan mata kuliah yang bersangkutan. Bagi mahasiswa yang ketahuan mencontek saat ujian, sanksinya adalah pembatalan mata kuliah 1 semester.
Penegakan aturan yang digalakkan oleh KPS S1 ternyata menimbulkan pro dan kontra baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa yang menjalankan aturan tersebut. Pasalnya, banyak mahasiswa yang terjaring oleh KPS S1 telah melakukan pelanggaran dan tidak dikenai hukuman yang ringan. Saat ditanya pendapatnya masalah hal tersebut kemarin (10/5), beliau memaparkan hingga kini masih banyak suara keras yang menentangnya. Padahal segala aturan yang terdapat di Fakultas Hukum UB ini tidak semata-mata dibuat oleh beliau, melainkan berdasarkan rapat Pembantu Dekai 1, Ketua Lab dan Kepala Bagian. Namun beliau tidak patah semangat karena beliau menilai apa yang dilakukannya hanyalah melaksanakan dan mengawal agar aturan di Fakultas Hukum tetap dijalankan. Beliau optimis dengan berbagai pendisiplinan di Fakultas Hukum, pelanggaran akan semakin berkurang karena menimbulkan efek jera yang luar biasa. Meski kadang kecewa terhadap beberapa rekan kerja yang tidak satu visi, beliau tetap berusaha memberikan yang terbaik. “InsyaAllah saya tetep komitmen untuk melaksanakan aturan yang sudah ada, tetap pada koridor pekerjaan saya dan tidak lepas dari tanggung jawab.” ungkapnya.
Lahir dari orang tua seorang guru, Dr. Lucky Endrawati SH, MH dididik selalu mengedepankan kejujuran, kesopanan dan ketertiban. Dari ketiga pelajaran tersebut, beliau tumbuh menjadi pribadi yang disiplin. Pribadi tersebut mengantarkan beliau pada cita-cita untuk membentuk moral bangsa yang baik khususnya di Fakultas Hukum.  Dinilai beliau, materi perkuliahan dapat diraih dimanapun tetapi pendidikan moral harus dibudidayakan untuk menghasilkan output sarjana hukum yang berbudi. “Kita kembalikan pada tujuan mendidik, mendidik tidak hanya transfer ilmu pengetahuan saja tetapi juga memberikan contoh yang baik.” ungkapnya.
Disela-sela kesibukannya, beliau menceritakan bahwa mahasiswa Fakultas Hukum UB sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Beliau tidak membedakan cara mendidik dua anak kandungnya dengan mendidik mahasiswanya. Cara beliau mendidik adalah menyeimbangkan materi ilmu pengetahuan dan nilai moral. Karena ‘kepandaian tidak dinilai dari akal pikiran saja, tetapi dinilai dari perilaku‘  adalah prinsip yang selalu dipegang teguhnya hingga kapanpun. (/gta)