Membangun Budaya Berkonstitusi

Konstitusi dan budaya, bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Budaya dikenal sebagai suatu keseluruhan sistem sosial yang membangun sebuah masyarakat. Sistem sosial bangsa Indonesia sendiri termaktub dalam konstitusi Negara Republik Indonesia yang merupakan hasil dari perjanjian tertinggi yang telah disepakati oleh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya menjadikan konstitusi sebagai sebuah kebudayaan yang hidup dan berkembang secara dinamis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Melihat latar belakang tersebut, maka lahirlah sebuah ide untuk mengembangkan dan menumbuhkan budaya berkonstitusi, khususnya di kalangan mahasiswa. Ide itu dituangkan dalam sebuah kompetisi debat dalam tema besar Padjdjaran Law Fair (PLF) yang diselenggarakan oleh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad). Terinspirasi dari semangat mewujudkan budaya berkonstitusi, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya berencana mengirimkan delegasi dan perwakilan terbaiknya untuk ikut berlaga di ajang tahunan tersebut. Untuk memperoleh calon delegasi yang benar-benar berkompeten, dekanat Fakultas Hukum mengadakan seleksi internal yang diselenggarakan pada tanggal 18 Februari 2013. Seleksi interview yang berjalan selama kurang lebih tiga jam tersebut mencoba menyaring bibit-bibit unggul yang layak mewakili Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dalam PLF 2013.
Seleksi internal PLF 2013 sendiri terdiri dari dua tahap, yakni pengumpulan essay dan interview. Pada tahap awal, tercatat sebanyak 30 mahasiswa mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi debat PLF kali ini. Namun, memasuki tahap interview, hanya tersisa sekitar 18 orang mahasiswa yang lolos dengan memenuhi persyaratan telah mengumpulkan essay. Pada tahap interview, rencananya akan duduk sebagai dewan penguji yaitu, Dr. Muchammad Ali Syafa’at, SH. MH., Arif Zainuddin, SH., MH., dan Moh. Dahlan, SH., MH. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dewan penguji diantaranya adalah apa yang dimaksud dengan konstitusi, bagaimana mekanisme perubahan undang-undang, contoh konstitusi tertulis dalam lembaga negara serta fungsi konstitusi. 18 orang mahasiswa yang mengikuti tes interview terlihat cukup menguasai materi dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik.
Namun, menurut Anisa, salah satu peserta, faktor nervous menjadi hambatan baginya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dewan penguji. Alhasil, ia kurang bisa memberikan jawaban yang maksimal. Secara keseluruhan, agenda seleksi internal debat PLF 2013 berjalan lancar. Pihak dekanat berjanji akan segera mengumumkan hasil seleksi debat PLF 2013. Semoga terpilih delegasi yang benar-benar berkualitas dan dapat mengharumkan nama besar FHUB diajang PLF 2013 yang rencananya akan digelar pada 9 Maret-1 April 2013. Selamat bertanding! (alfa21)