Kuliah Tamu Kapita Selekta HAN: “Pengelolaan Pelestarian Cagar Budaya Kota Malang sebagai Langkah Selamatkan Kekayaan Bangsa”

  • Post category:News
You are currently viewing Kuliah Tamu Kapita Selekta HAN: “Pengelolaan Pelestarian Cagar Budaya Kota Malang sebagai Langkah Selamatkan Kekayaan Bangsa”

Hukum Administrasi Negara (HAN) Fakultas Hukum, UB menyelenggarakan kuliah tamu dengan mengusung tema “Pengelolaan Pelestarian Cagar Budaya Kota Malang sebagai Langkah Selamatkan Kekayaan Bangsa” pada senin (9/10) yang bertempat di ruang Auditorium Lantai 6 Gedung A Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Acara ini dipelopori oleh ketua umum De HAN’S, Kasubag HAN Bapak Lutfi Effendi, S.H., M.Hum., dan Wakil Dekan 3 Bapak Arif Zainudin, S.H., M.Hum. dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang / Tim Ahli Cagar Budaya / Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yaitu Bapak Agung Harbuana, S.E., M.SE. sekaligus juga diikuti oleh beberapan dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya Malang.

Beliau menyampaikan apresiasinya kepada panitia dan mahasiswa fakultas hukum tentang pemilihan tema yang jarang sekali diperhatikan oleh masyarakat khususnya Mahasiswa Fakultas Hukum. Karena pembahasan mengenai cagar budaya ini biasanya hanya di bahas oleh Fakultas Ilmu Budaya ataupun Fakultas Ilmu Sosial. Dalam pernyataannya bapak Agung Harbuana S.E., M.SE menyatakan Fungsi cagar budaya adalah sebagai salah satu ketahanan bangsa Indonesia, cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan.

Cagar Budaya meliputi beberapa jenis yaitu: Benda, Struktur, Bangunan, Situs, dan Kawasan. Kriteria sesuatu dapat dikatakan sebagai cagar budaya apabila sudah meiliki usia lebih dari 50 tahun dan memiliki arti khusus untuk penguatan pribadi bangsa. Cagar Budaya dibagi menjadi beberapa peringkat, yaitu: Cagar Budaya Kota/Kabupaten, Cagar Budaya Provinsi, Cagar Budaya Nasional. Di Kota Malang sendiri diperkirakan terdapat 1555 Cagar Budaya, namun faktanya hanya 1 bangunan 30 gedung dan 60 yang masih baru teridentifikasi sebagai cagar budaya, hal ini sungguh memprihatinkan mengingat banyaknya cagar budaya yang ada di Kota/Kabupaten Malang ini hanya kurang daro 10% yang sudah resmi di awasi oleh pemerintah Kota/kabupaten Malang. Di Kota Malang bertebaran bangunan cagar budaya berarsitekttur colonial Belanda hingga situs purbakala berupa candi, deretan rumah berasitektur colonial Belanda itu bias ditemui di kawasan Ijen Boulevard. Sayangnya saat ini hanya tersisa sekitar 20 unit rumah di kawasan yang dirancang oleh Ir Herman Thomas Karsten pada 1914 silam. Padahal dahulu ada 80 unit rumah yang diperuntukan sebagai tempat peristirahatan para pembesar kolonial Belanda. Nasib malang cagar budaya itu tak hanya di kawasan Ijen Boulevard saja, banyak bangunan cagar budaya yang kini telah berubah menjadi toko, perkantoran, dan sebagainya yang sudah merubah bahkan menghancurkan bangunan aslinya untuk dibangun ulang.

Pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya seringkali berbeda pendapat dengan pelestari cagar budaya, hal ini dikarenakan dari pihak pelestari tidak ingin cagar budaya dimanfaatkan sehingga dapat merusak cagar budaya itu sendiri, namun dilain pihak, pihak pengembangan dan pemanfaatan juga berusaha menjaga cagar budaya dengan cara memanfaatkan dan mengembangkan tanpa merubah bentuk dan fungsi cagar budaya karena apabila cagar budaya tidak dirawat dan tidak dikembangkan dan hanya dibiarkan dikhawatirkn malah akan merusak cagar budaya secara perlahan.

Upaya sudah dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga dan mempertahankan cagar budaya, upaya upaya tersebut antara lain : Membentuk TACB, Melengkapi aturan RANPERDA, Kerjasama dengan berbagai komunitas pecinta cagar budaya, serta melakukan sosialisasi lewat media social. Namun pemerintah masih memiliki keterbatasan terhadap cagar budaya milik perseorangan atau instansi swasta, karena pemerintah tidak memiliki hak mutlak atas cagar budaya tersebut. [Fjr]