Gathering Lembaga Kedaulatan Mahasiswa : BEM, DSM dan LO

  • Post category:News

PSIKnews – Untuk meningkatkan jiwa kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi, para ketua beserta beberapa jajaran dari masing-masing Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) FH UB mengadakan acara gathering (selasa, 30/4). Bertempat di ruang A.22, agenda kali ini dihadiri oleh semua perwakilan LKM, diantaranya adalah BEM, DSM, ManifesT, Forsa, LESC, Teater Kertas, Formah PK, FPKH dan ALSA.
Galuh Ramadhan, selaku koordinator dari Dewan Senat Mahasiswa (DSM) ditunjuk sebagai pemimpin agenda gathering kali ini. Setelah berdiskusi selama hampir 3 jam (15.30-18.30 WIB), forum menghasilkan tiga poin penting keputusan yang telah disepakati bersama. Pertama, terkait hasil rakor pimpinan yang memutuskan bahwa sebanyak 35% pagu dana dari masing-masing LKM akan dipotong, para perwakilan LKM sepakat untuk menghemat anggaran. Pada bagian kedua, diputuskan mengenai pembentukan kelompok kerja (pokja) aliansi gabungan dari perwakilan LKM yang ada untuk membahas masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pokja ini rencananya akan rutin mengadakan kajian terkait penerapan kebijakan UKT. Beberapa langkah strategis telah disusun untuk menyikapi pemberlakuan UKT yang rencananya mulai diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014. Ali Mashuda, selaku perwakilan dari LPM ManifesT mengatakan bahwa jika kajian dan hearing terkait UKT tidak mendapatkan respon positif dari pihak birokrat, maka mahasiswa akan turun aksi. Sementara itu, pandangan berbeda diungkapkan oleh Agung Honesta, selaku perwakilan dari FKPH. Agung melihat bahwa UKT bisa diterapkan, asalkan prosedur penetapan besaran UKT dilakukan secara transparan dan melihat pula dari unsur budaya lokal masing-masing Universitas.
“Sah-sah saja jika pihak birokrat menetapkan UKT. namun, yang perlu digaris bawahi adalah sisi transparansi dan unsur lokal dari tiap-tiap Perguruan Tinggi (PT). Unsur lokal itu tampak ketika membandingkan antara satu PT dengan PT yang lainnya.” Ungkap Agung
Keputusan ketiga terkait program kerja bersama. Wacana untuk mengadakan suatu agenda kegiatan bersama ini muncul sebagai jawaban dari kegelisahan yang selama ini membayangi kinerja LKM. Agenda kegiatan bersama ini nantinya diharapkan dapat menghapus stigma eksklusif antar LKM. Dengan adanya agenda kegiatan bersama, maka slogan Hukum Bersatu Tak Bisa Dikalahkan akan kembali bergema dengan lantang di seantero Brawijaya. Ayu Hana, selaku perwakilan dari LESC, mengungkapkan bahwa agenda kegiatan bersama ini sangat penting karena dapat menunjukkan kekompakan dan kebersamaan LKM FH UB yang sejatinya tercipta dari keragaman. Beberapa usulan terkait bentuk kegiatan bersama yang akan dilakukan masih menjadi PR. Namun besar kemungkinan kegiatan bersama tersebut diwujudkan dalam agenda bakti sosial (baksos), futsal maupun penggalangan dana untuk korban bencana. Ketiga hasil keputusan tersebut kemudian akan ditindaklanjuti dalam agenda gathering selanjutnya. (alfa28)