(Indonesia) Fasilitas Rehabilitasi Bagi Korban Perkosaan

Dewasa ini hukum telah berkembang menjadi salah satu kebutuhan masyarakat demi terciptanya lingkungan yang aman dan damai. Hukum diciptakan dan diberlakukan masyarakat sebagai acuan baik benarnya suatu perbuatan didalam setiap kejadian. Yang bersalah akan dihukum semata-mata untuk melindungi yang benar. Sekelumit kata itu ternyata memiliki arti tersendiri bagi Antory Royan Adyan SH. MHum., mahasiswa program studi doktor ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. “KUHAP (Kitab Undang-undang acara Pidana) lebih mementingkan peran pelaku, bukan korban”, begitulah kalimat yang selalu ia singgung dalam pagelaran ujian akhir disertasinya kemarin siang 13 February 2013 di ruang Auditorium lantai 6 gedung A Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Berdasar keprihatinan terhadap sudut pandang viktimologi ini, Antory mengangkat judul disertasinya yaitu “Kebijakan Perlindungan Hukum Bagi Anak Korban Perkosaan dalam Memperoleh Pelayanan Rehabilitasi”. Selaku pembimbing dari study Antory, tampak Prof. Dr. Koesno Adi, SH.MS sebagai Promotor dan Prof. Masruchin, SH.MS, serta Dr. Prija Djatmika, SH.MS. sebagai Ko Promotor hadir di kursi dewan penguji bersanding dengan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya Prof. Dr.Sudarsono, SH.MS. Selain itu hadir pula dewan penguji lainnya yaitu Dr. Rachmad Syafa’at, SH.Msi; Dr. Bambang Sugiri, SH.MS; dan penguji tamu dari Fakultas Hukum Universitas Bengkulu Dr. Hamzah Hatrik, SH.MH.

Selama kurang lebih seratus dua puluh menit jalannya ujian akhir disertasinya, pria kelahiran Kota Bumi Bengkulu ini nampak sangat bersemangat dan menggebu-gebu. Antory memfokuskan penelitiannya pada pentingnya kebijakan jaminan perlindungan hukum berupa rehabilitasi bagi anak korban perkosaan. Menurut Antory, tahap implementasi dari ketentuan pasal 64 ayat 3 huruf a Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dirasa tidak jelas dasar hukumnya sehingga menimbulkan ketidak-adilan bagi korban perkosaan. Ia berharap penelitian dalam disertasinya dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu hukum dibidang viktimologi utamanya yang berkaitan dengan upaya pemulihan gangguan secara fisik dan phsikis yang dialami anak korban perkosaan. Pada akhirnya, penelitian ini mengerucut pada penyempurnaan hukum pidana dan sistem peradilan pidana dalam menyelesaikan konflik “perlakuan adil” antara pelaku perkosaan dan anak korban perkosaan. Meski sedikit bermasalah dengan penyusunan bahasa dalam disertasinya, Antory menuai apresiasi dari Hamzah Hatrik penguji tamu Universitas Bengkulu ditambah membawa pulang hasil ujian akhirnya dengan predikat “Lulus Sangat Memuaskan”.

Dr. Antory Royan Adyan SH. MHum adalah gelar baru yang digenggam pria berumur 49 tahun ini dengan napas lega setelah menjalani empat tahun enam bulan program studinya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ditemani keteguhan dan penuh kesabaran. (GIT)