Fakultas Hukum UB Selenggarakan Kuliah Tamu Prospek Penyelesaian Masalah Freeport

  • Post category:News
You are currently viewing Fakultas Hukum UB Selenggarakan Kuliah Tamu Prospek Penyelesaian Masalah Freeport

Selama 50 tahun Freeport mengeksploitasi tambang emas di Indonesia telah banyak hal negatif yang dipublikasikan. Freeprot telah merusak tak hanya pegunungan Grasberg dan Ertsberg, tetapi sudah mengubah bentang alam seluas 166km persegi di daerah aliran sungai Ajkwa. Namun yang menjadi kehebohan akhir-akhir ini adalah ancaman Freeport untuk menuntut Indonesia ke Arbitrase Internasional dalam waktu 120 hari sejak 17 januari 2017. Bahkan, Freeprot telah menhentikan kegiatan operasi dan produksinya di Tambang Grasberg sejak 10 Februari 2017 lalu. Para pekerja tambangnya di Mimika, Papua yang berjumlah puluhan ribu sudah dirumahkan.
Beberapa masalah terkait Freeport ini menjadi latar belakang Fakultas Hukum Universitas Brawijaya menyelenggarakan Kuliah Tamu, dengan tema Penyelesaian Sengketa Antara Indonesia dan PT Freeport Indonesia Melalui Arbitrase Internasional.

Kuliah tamu ini mendatangkan pembicara Tamu Prof. Dr. Ida Rahmadi Supanca, SH., MH. Beliau merupakan Ahli Hukum Investasi, Guru Besar di Fakultas Atma Jaya, menempuh pendidikan Doktor di Universitas Leiden, Belanda, dan juga alumni Fakultas Hukum UB angkatan 1978.

Bertempat di Auditorium Lantai 6 Fakultas Hukum UB, Kuliah tamu ini ditujukan untuk Mahasiswa yang telah menempuh Mata Kuliah Hukum Ekonomi Internasional, Mahasiswa Konsentrasi Hukum Internasional, dan Dosen Fakultas Hukum UB.

Menurut Supanca, masalah ini dapat dilihat dari 3 perpektif, yaitu perpektif hukum kontrak, investasi, dan penyelesaian sengketa. Bagi Freeport, kontrak beserta segenap perubahanya adalah undang-undang yang berlaku diantara para pihak yang wajib dilaksanakan. Dalam hal terjadi perubahan Undang-Undang yang mempengaruhi hak dan kewajiban kontraktual, maka hak-kah yang telah diperoleh (acquired rights) dalam kontrak yang harus dilindungi (grand father clause).