Di Masa Pandemi Guru Besar FH UB Teliti Kebijakan Tokoh Adat Baduy

  • Post category:News
You are currently viewing Di Masa Pandemi Guru Besar FH UB Teliti Kebijakan Tokoh Adat Baduy

 

Kebijakan pimpinan Masyarakat Adat dalam melindungi masyarakat adat setempat di masa pandemi diangkat sebagai tema penelitian oleh Guru Besar FH UB (Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Prof. Dr. Moh. Fadli, S.H., M.Hum dan tim peneliti dari FH UB.

Penelitian serupa telah dilakukan tanggal 14-17 Agustus di Tenganan Pegringsingan Bali; 15-19 September di Batusangkar; dan pada minggu kedua bulan Oktober 2021 di Baduy (Dalam/Tangtu dan Luar/Panamping).

Prof. Fadli yang telah berkali-kali meneliti Baduy sejak hampir 10 tahun lalu, kali ini bersama tim masuk ke Baduy Dalam melalui pos kelima di kampung Cibinong Raya Desa Kebon Cau di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

“Agar lebih cepat sampai,” kata Prof. Fadli, Kamis (7/10/2021).

Wawancara dilakukan terhadap pimpinan adat Baduy, seperti Puun (tokoh tertinggi) Cikartawana (aki Puun Dalkin), Jaro Sami’ (Wakil Pu’un) dan Ayah Mursid (salah satu tokoh penting masyarakat Baduy), dan Drs Asep Kurnia, M.Pd pemerhati dan penulis buku tentang Baduy.

Sebelum itu, telah dilakukan wawancara dengan Kepala Desa Kanekes yaitu Jaro Saija.

Focus Group Discussion (FGD) pertama dilakukan Rabu (6/10/2021) malam di rumah Jaro Sami’. FGD ini dihadiri oleh Jaro Sami, Ayah Mursid, dan Drs. Asep Kurnia, MPd. Acara dipandu oleh Dr. M. Noor Fajar, SH, MH dari FH Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten. FGD ini dihadiri 19 orang. Mengingat FGD pertama belum tuntas karena ada rangkaian acara adat, maka dilanjutkan dengan FGD kedua pada Kamis (7/10/2021) siang, bertempat di Saung Kreatif Baduy.

Menurut Jaro Saija, KADES Kanekes, pendapatan masyarakat Baduy dari sektor pariwisata turun hingga 70% di masa pandemi. Pandemi memaksa ekonomi penduduk Baduy Dalam juga ikut terdampak.

Hal ini terbukti jatuhnya harga jahe, kunir dan kencur yang menurun sangat drastis dari biasanya per kilo Rp40.000, saat pandemi harga tersebut per 1kg di bandrol Rp6000-7000.

“Buah seperti pisang nyaris tidak laku, karena tidak ada permintaan dari para pembeli maupun tengkulak,” kata Jaro Saija.

Kondisi tersebut membuat masyarakat Baduy Dalam terpukul.

Sebelum pandemi, Baduy ramai pengunjung. Banyak masyarakat terbantu seperti menjadi jasa pemandu, dan kerajinan tangan khas Baduy juga terjual, sehingga secara ekonomi kehidupan Masyarakat Adat Baduy sangat terbantu dengan adanya pelancong yang bertandang ke sana. Entah hanya untuk traveling, conten creator, reportase maupun tujuan penelitian.

Secara substantif, menurut Jaro dan Ayah Mursid, pandemi mereka maknai secara hakikat dari dua perspektif yang berbeda. Yakni secara bahasa dan cara.

Secara bahasa pandemi diistilahkan sebagai “sasalat” yang setiap tahun ada. Sedangkan secara cara, ada beberapa tahapan dalam menanggulanginya yaitu dengan doa-doa syariat dan menggunakan obat-obatan hasil bumi seperti rempah-rempah, dan kelapa hijau yang dipadukan dengan mantra-mantra dengan tujuan yakni supaya sehat dan selamat. Terbukti di Masyarakat Adat Baduy berdasarkan data resmi tidak ada yang terkena wabah covid 19.

Strategi kebijakan dari tokoh masyarakat adat secara turun-temurun sudah ada dan diwariskan. Biasanya mereka sudah mendapat petunjuk sebelum terjadi. Seperti melalui wangsit dan firasat dalam mengatasi persoalan wabah.

Kedatangan suatu wabah biasanya diketahui melalui firasat dan wangsit yang diperoleh oleh Puun. Setelah itu untuk mengantisipasi, salah satu yang dilakukan oleh para tokoh adat seperti Puun, Jaro yakni mengumpulkan masyarakat setempat di Bale Adat untuk memberikan informasi dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan dan beraktivitas seperti biasa dengan penuh ketataan secara batin.

Selain itu konsolidasi internal dengan para pemangku adat dan kepala desa terkait dengan perbatasan di wilayah Kanekes. Asep Kurnia menambahkan, bahwa menghadapi pandemi, para pemimpin adat Baduy juga merenung: apa penyebab pandemi ini terjadi?

Mereka melakukan evaluasi diri, apakah ini teguran atau ujian, sekaligus mencari solusi untuk mengatasinya.

Wisata ke Baduy Dalam mulai menggeliat dalam 2 minggu terakhir ini. Hal ini dikemukakan oleh peserta FGD Karmain dan Sanati. Keduanya memang sering memandu wisata ke Baduy Dalam. Keduanya juga menyebut bahwa pada hari Ahad (Minggu lalu) ada sekitar 100 orang pengunjung yang datang ke Baduy Dalam.

Ayah Mursid membenarkannya. Pembukaan pos kelima menuju Baduy Dalam, diharapkan selain dapat membantu membangkitkan ekonomi juga sekaligus menjaga kelestarian adat.

Demikian Ayah Mursid menuturkan kepada Guru Besar FH UB Prof. Dr. Moh. Fadli, S.H., M.Hum dan tim peneliti dalam FGD tersebut.

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/374702/guru-besar-fh-ub-teliti-kebijakan-tokoh-adat-baduy-di-masa-pandemi