Program Peace in Diversity PPHD

  • Post category:News

Pusat Pengembangan HAM dan Demokrasi (PPHD) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Indonesia Conference on Religious and Peace (ICRP), The Asia Foundation (TAF), dan Swiss Embassy menyelenggarakan program National Peace in Diversity (PiD), dengan tema “Celebrating Diversity, Building Peace”, pada tanggal 29 Oktober – 1 Nopember 2015 di Kota Batu.

Kegiatan ini dihadiri 50 aktivis muda yang mewakili komunitas lintas iman seperti Islam, Ahmadiyah, LDII, Muhammadiyah, NU, Kristen Ortodox, Kristen Protestan, Katolik, Baha’i, Hindu, dan Buddha. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan para generasi muda lintas agama dan kepercayaan untuk saling merasakan keunikan, perbedaan dan persamaan dalam satu perjumpaan. Pada kegiatan ini pula para peserta dapat merasakan kultur yang berbeda di saat mereka harus tinggal dengan peserta lain yang berbeda agama dan mengenal satu sama lain. Selama mengikuti kegiatan ini, para peserta mendapatkan pelatihan Living Value Education, pelatihan menulis reflektif, dan kunjungan ke tempat-tempat ibadah yang berbeda .

Pada hari pertama, peserta mengikuti pelatihan Living Value Education yang diberikan oleh Muhammad Iqbal dari Center for Religion and Philosophy. Kegiatan berlangsung dari pukul 08.30 hingga 17.00 WIB. Pada malam harinya, para peserta mendapatkan pelatihan secara interaktif tentang penulisan  reflektif oleh Ahmad Nurcholis dari ICRP. Sebagai penugasan para peserta diminta untuk membuat karya tulis reflektif tentang acara studi ekskursi ke tempat ibadah 5 (lima) agama yang berbeda.

Sabtu, 31 Oktober 2015, para peserta melakukan kunjungan atau studi ekskursi lima tempat ibadah yang berbeda di wilayah Kota Batu yaitu Pura Luhur Giri Arjuno, Masjid Jami’ An-Nuur, Gereja Kristen Jawi Wetan, Gereja Katolik Gembala Baik, dan Vihara Dhamma Dipa Arama. Dalam kunjungan tersebut, para peserta dapat berinteraksi dengan melakukan tanya jawab dengan para pemuka agama baik terkait dengan tradisi, budaya, cara beribadah, tempat ibadah, hingga persoalan teologis dari masing-masing agama khususnya menyangkut kerukunan inter dan antar umat beragama yang berbeda.

“Saya paling suka saat kunjungan ke Pura Luhur Giri Arjuno. Fasilitator di sana cukup atraktif dan sambutan yang diberikan sangat hangat.” Ungkap Billy dari Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Kota Malang.

Lain halnya dengan Ike Natalia, perwakilan dari Klenteng En Ang Kiong Kota Malang. “Bagi saya, kunjungan ke Vihara sangat mengesankan. Mereka welcome sekali dengan kedatangan kita dan materi yang diberikan sangat menarik. Selain itu banyak tempat-tempat di vihara yang wajib untuk di explore, serta waktu kunjungan yang lebih panjang.”

Pada hari terakhir, para peserta bersama-sama dengan pihak dari panitia melakukan evaluasi dan rencana tindak lanjut. Dari hasil diskusi, dipaparkan beberapa rencana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh para peserta, diantaranya: (1) Membuat karya tulis atau foto; (2) Diskusi atau sharing forum secara informal; (3) gathering; (4) Sosialisasi ke masing-masing agama; (5) Penyusunan program bersama.

“Kegiatan ini sangat baik untuk dilaksanakan. Saya belajar untuk bisa memahami peserta lain yang berbeda agama. Dan suasana kekeluargaan sangat terasa.” Ujar Agung, mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, Batu.

Humda Najam, perwakilan dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Surabaya mengungkapkan, “Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan lintas agama seperti ini. Saya sangat senang sekali. Saya disambut dengan baik dan selama kegiatan kami semua mendapatkan fasilitas dan diperlakukan dengan baik. Saya sebagai seorang Ahmadi juga merasa diberikan wadah untuk memperkenalkan apa itu Ahmadi kepada teman—teman yang lain. Harapan saya, kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan. Terima kasih telah mengundang perwakilan dari Ahmadiyah dan saya terus menunggu kegiatan selanjutnya.”

Hal senada diungkapkan Anggun, perwakilan dari Baha’i, “Bahagia sekali bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai agama yang memiliki satu visi, yakni perdamaian. Kita bisa saling bertukar pikiran dalam mencari solusi bagaimana perdamaian ini bisa kita tularkan ke saudara-saudara kita yang lain. Pesan saya, semoga teman-teman bisa terus semangat dan konsisten untuk melaksanakan rencana demi visi perdamaian.”

Dengan diadakannya kegiatan ini, diharapkan para generasi muda dapat memiliki sikap yang inklusif dan toleran terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain.