Bali Recovery: Bangkitkan Kembali Pariwisata Pasca Pandemi Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru

  • Post category:News
You are currently viewing Bali Recovery: Bangkitkan Kembali Pariwisata Pasca Pandemi Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru

Pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang sangat diandalkan sebagai sumber pendapatan Negara Indonesia. Hampir seluruh penjuru Indonesia dapat ditemui potensi pariwisata yang tak jarang disebut dengan “surga”. Hal lainnya yang menjadi pembeda pariwisata Indonesia ialah keidentikannya dengan konsep eduwisata kebudayaan. Indonesia dengan beragam kebudayaan mampu menyajikan suguhan pariwisata dengan konsep memperkenalkan kebudayaan-kebudayaan yang unik yang mampu menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Dari sisi ekonomi, dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), baik melalui devisa maupun perputaran ekonomi. Usaha-usaha pemerintah dalam mengelola pariwisata Indonesia cukup terlihat menonjol dengan prinsip menjadikan pariwisata-pariwisata Indonesia mendunia, hal tersebut terlihat dari maraknya pembangunan untuk memberikan fasilitas dan akses yang baik di daerah pariwisata. Bali sebagai salah satu provinsi dengan pariwisata terbesar berperan sangat penting dan sangat besar kontribusinya bagi sektor pariwisata Indonesia dari berbagai aspek. Demikian pula pariwisata itu sendiri menjadi sektor yang sangat vital sebagai tonggak pendapatan daerah di Provinsi Bali. Di era saat ini berwisata tidak lagi menjadi hal yang dianggap mahal oleh masyarakat banyak, oleh karenanya peningkatan minat masyarakat terhadap pariwisata melambung tinggi, yang mana bali merupakan pilihan teratas yang ingin dikunjungi oleh wisatawan. Namun munculnya wabah penyakit COVID 19 membuat pariwisata bali mengalami keterpurukan bahkan mencapai angka yang sangat rendah. Keadaan tersebut mengharuskan pariwisata Bali bangkit kembali untuk membentuk pariwisata bali yang kuat.

Pada masa pandemi Provinsi Bali mengami beberapa permasalahan. Pertama, menurunnya tingkat kunjungan wisatawan. Kedua, menurunnya PAD Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali. Ketiga, perlambatan pertumbuhan ekonomi. Hal ini diakibatkan oleh struktur ekonomi Bali yang didominasi oleh sektor pariwisata sebesar 56,78%. Sedangkan kontribusi diluar sektor pariwisata relatif kecil seperti sektor pertanian (9,24%), sektor kelautan/perikanan (4,21%), sektor industri (14,63%), dan sektor lain (15,14%). Ketergantunagn Bali terhadap sektor pariwisata ini mengakibatkan perekonomian Bali sangat rentan terhadap perubahan-perubahan faktor eksternal. Hal ini diperparah dengan belum diberdayakannya secara optimal perekenomian diluar sektor pariwisata, seperti sektor perekonomian, kelautan/perikanan, industri kerjinan. Bahkan beberapa sektor ini cenderung bergeser atau beralih ke sektor pariwisata. Pandemi COVID-19 mengakibatkan menurunnya wisatawan Bali dengan sangat drastis baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Untuk wisatawan mancanegara pada tahun 2020 saja hanya mencapai 1.069.473 jiwa, jauh menurun jika dibandingkan pada tahun 2019 yang masih mencapai 6.275.210 jiwa. Bahkan pada tahun 2021 jumalah wisatawan asing yang melancong ke Bali hanya 51 jiwa. Sedangkan untuk wisatawan nusantara, pada tahun 2019 jumlah wisatawan nusantara yang melancong ke Bali dapat mencapai 10.545.030 jiwa, kemudian menurun drastis pada tahun 2020 dengan jumlah 4.596.157 jiwa dan mengalami sedikit perubahan pada tahun 2021 yakni 4.301.592 jiwa. Penurunan wisatawan macanegara maupun wisatawan nusantara sangat berdampak terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Bali dan Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah Provinsi Bali. Pada tahun 2019 PAD Provinsi Bali dapat mencapai Rp.4.023.156.316.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.3.434.785.985.000. Sedangkan untuk Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali beberapa diantaranya mengalami penurunan yang pertama, Kabupaten Badung dengan PAD tahun 2019 Rp. 4.835.188.460.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.2.701.549.221.000. Kedua, Kabupaten Gianyar dimana PAD pada tahun 2019 dapat mencapai Rp.997.478.368.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.881.017.716.000. Ketiga, Kabupaten Klungkung dimana PAD pada tahun 2019 mencapai Rp. 225.063.772.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.217.893.860.000 Keempat, Kabupaten Bangli dimana PAD pada tahun 2019 mencapai Rp.127.040.436.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.104.796.184.000. Kelima, Kabupaten Karangasem dimana PAD pada tahun 2019 mencapai Rp.233.013.033.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.207.905.009.000. Keenam Kabupaten Buleleng dimana PAD pada tahun 2019 mencapai Rp.365.595.301.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.335.072.650.000. Ketujuh, Kota Denpasar dimana PAD pada tahun 2019 dapat mencapai Rp.1.010.779.481.000 sedangkan pada tahun 2020 hanya mencapai Rp.654.920.213.000. Hanya terdapat 2 kabupaten di willayah provinsi bali yang mengalami peningkatan PAD yaitu Kabupaten Jembrana dimana PAD pada tahun 2019 berjumlah Rp.133.698.784.000 dan pada tahun 2020 meningkat mencapai Rp.141.545.522.000. Dan Kabupaten Tabanan dimana PAD pada tahun 2019 berjumlah Rp.354.558.239.000 dan pada tahun 2020 meningkat mencapai Rp.371.275.420.000.

Kondisi di atas mengaharuskan Pemerintah Provinsi Bali mengambil kebijakan- kebijakan yang dapat memantik bangkitnya perekonomoan Bali. Dalam meningkatkan kepercayaan publik dan meningkatkan kembali sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi Bali melakukan beberapa upaya, pertama melakukan Sertifikasi Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru dan Clean, Healthy, Safe, Enviromentally sustainable by Minister of Tourism and Creative Economy (CHSE) pada usaha pariwisata. Dari 3.101 usaha pariwisata, 896 diantaranya telah memiliki Sertifikasi Protokol Tatanan Kehidupan Era Baru, meliputi 552 usaha bidang akomodasi, 75 restoran, 5 desa wisata, 40 usaha transportasi, 40 wisata tirta, 1 kawasan pariwisata, 83 Daya Tarik Wisata (DTW), 73 usaha travel, 20 rekreasi hiburan umum, dan 7 mall. Dan 2.205 usaha telah tersertifikasi CHSE yang meliputi 724 hotel, 576 rumah makan, 34 usaha bidang cindera mata, 10 usaha arum jeram, 660 pondok wisata, 80 usaha bidang transportasi, 48 usaha selam, 4 usaha golf, 3 usaha mice, dan 73 Daya Tarik Wisata (DTW). Kedua, melaksanakan Vaksinasi COVID-19. Dimana Provinsi Bali pada Vaksinasi Tahap I telah mencapai 4.008.441 (106,21%). Sedangkan untuk Vaksinasi Tahap II mencapai 3.640.467 (96,46%). Dan untuk Vaksinasi Tahap III mencapai 2.122.820 (70,58%). Untuk Vaksinasi Tahap IV bagi tenaga kesehatan telah mencapai 82,78% per 3 September 2022. Ketiga, penggunaan Aplikasi Peduli Lindungi diseluruh fasiltas publik termasuk sektor pariwisata. Cakupan Aplikasi Peduli Lindungi di wilayah Provinsi Bali telah menjangkau 10.504 usaha, 1.206 hotel, 508 restoran, 156 tempat wisata, dan 98 mall/supermarket per November 2021.

Terdapat beberapa hambatan dalam uapaya untuk membangkitkan pariwisata Bali, pertama kondisi perekonomian global tidak mendukung. Kedua, fluktuasi harga komoditas energi dan pangan di tingkat global. Ketiga, biaya wisata menjadi lebih mahal. Keempat, pandemi COVID-19 belum jelas kapan akan berakhir. Kelima, aturan perjalanan yang kini kian rumit. Keenam, kebijakan masing-masing negara yang berbeda-beda. Pukulan Pandemi COVID-19 yang begitu telak bagi sektor pariwsiata ini disisi lain justru membangkitkan sektor- sektor lain. Sektor pertanian, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), industri kreatif yang tadinya kurang berkembang, pasca Pandemi COVID-19 justru menjadi sektor yang dapat menyelamatkan perekonomian masyarakat Bali. Didukung dengan pariwisata berbasis digital melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 tahun 2020 tentang Standar Penyelengaraan Kepariwisataan Budaya Bali serta melalui platform digital Made in Bali, semakin mambantu masyarakat dalam mempromosikan dan memasarkan produk unggulan kreatif mereka menjadi lebih luas. Kebijakan yang menunjang tumbuhnya sektor-sektor non-pariwisata di Bali serta optimalisasi diperlukan sebagai alternatif tonggak perekenomian Bali dalam menghadapi ancaman resesi tahun-tahun mendatang.

Oleh:
Indah Alvionita Sari, Lelly Rosa Sidabutar, Ivan Brian Pratama, Muhammad Fahrudin, Ghazi Abhyasa Athar, Azrel Wildanis Permadi, Dyah Ayu Candra Meisaputri, Estu Raka Mukti, Jashinta Putri Rahmadina.