Faculty Of Law Students Held A Public Discussion With Cak Nun

  • Post category:News

aa

Senin, 31 Agustus 2015, digelar Diskusi Publik dalam rangka memperingati Dies Natalis FH UB yang ke 58 dengan tema “Sinau Kedaulatan Pendidikan dan Kedaulatan Kebudayaan”. Acara ini terselenggara berkat kerjasama organisasi kemahasiswaan Fakultas Hukum UB yaitu FORSA (Forum Studi Agama Islam) dan Teater Kertas. Hadir sebagai pembicara tunggal budayawan nasional Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun.

Bertempat di Aula Gedung B Fakultas Hukum UB, diskusi publik dibuka oleh Wakil Dekan II FH UB, Dr. Iwan Permadi, SH. MHum. Beliau mengatakan bahwa dekanat sangat mengapresiasi acara yang digelar oleh mahasiswa FH UB seperti acara ini. Dengan menghadirkan pembicara seperti Cak Nun ini akan memberikan pengayaan terhadap pengetahuan mahasiswa dan membuka pemikiran-pemikiran yang mungkin belum didapat selama mengikuti kuliah secara formal. Beliau juga menekankan bahwa dekanat akan mendukung penuh acara-acara serupa yang digelar oleh mahasiswa FH UB. Dalam acara tersebut juga diselingi oleh penampilan musik akustik dan puisi oleh mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan Teater Kertas.

a

Ratusan peserta yang datang memadati Aula Gedung B berasal dari kalangan dosen, staf karyawan, dan sebagian besar dari kalangan mahasiswa UB dan juga mahasiswa dari Universitas lain di luar UB diantaranya dari Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Malang (UIN), dan universitas lainnya. Hadir sebagai moderator dalam diskusi tersebut, Dr. Prija Djatmika, SH. MS., Wakil Dekan I FH UB. Pemaparan yang disampaikan cak Nun berlangsung sangat menarik dan interaktif. Sesuai dengan gaya nya yang kental selama ini menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, ceplas-ceplos, namun tak jarang menimbulkan gelak tawa yang menggegerkan seisi aula. Cak Nun mengatakan sebelum memahami kedaulatan pendidikan dan kedaulatan kebudayaan, harus dipahami metodologi/parameter/cara pandang nya terlebih dahulu. Cak Nun juga mengatakan ada 4 tipe manusia, yaitu pertama orang yang mengerti banyak tentang sidikit hal, tipe seperti ini contohnya adalah orang/masyarakat kampus. Tipe kedua adalah orang yang mengerti sedikit tentang banyak hal. Tipe ketiga orang yang mengerti banyak tentang banyak hal, ini adalah tipe orang terbaik dan seharusnya dicetak oleh kampus. Sedangkan tipe keempat adalah orang yang mengerti sedikit tentang sedikit hal, tipe ini adalah yang terburuk. Di akhir pemaparannya, cak Nun mengatakan bahwa dalam menjalani hidup ini manusia harus memiliki bekal utama yaitu akal sehat dan tidak keluar dari logika, dan semua hal hendaknya dikembalikan kepada induknya, yakni Alquran. Setelah pemaparan, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang sangat antusias diikuti oleh seluruh peserta.