MALANG – Universitas Brawijaya (UB) bersama se­jumlah perguruan tinggi di Ibu Kota menggelar Kon­ferensi Internasional Rear­rangment of Policy and Leg­islation on Energy and Mining Law (Hukum Energi dan Penambangan) 2018. Konfenresi yang mengambil tema “Reformulasi Hukum dan Kebijakan dalam Penge­lolaan Energi dan Pertam­bangan” digelar di Jakarta, 18–19 September 2018.

Konferensi tersebut menghadirkan sejumlah pa­kar energi nasional dan internasional sebagai pembicara, seperti Sekjen Dewan Energi Nasional, Saleh Abdurrahman, Prof. Raphael Heffron dari University of Dundee, Inggris, dan John Southalan dari University of Western Australia.

“Dengan masalah yang terjadi dalam pengelolaan pe­nambangan minyak dan gas di Indonesia, maka perlu di­lakukan musyawarah menyeluruh di antara berbagai ka­langan dalam bentuk konferensi internasional tentang pertambangan, dan undang-undang minyak dan gas. Konferensi ini akan menawarkan saran kepada lembaga-lembaga terkait dalam meningkatkan pengelolaan minyak dan gas sehingga menemukan paradigma manajemen pe­nambangan yang baik yang adil,” kata Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Nuhfil Hanani, Senin (17/9).

Melalui konferensi internasional yang bertemakan Rearrangement of Policy and Legislator on Energy and Mining Law 2018, akademisi UB membedah hambatan regulasi sektor energi yang perlu segera dibenahi.

“Kami melihatnya urgent karena sebenarnya kita negara yang kaya akan SDM, tapi beberapa persoalan yang sebenarnya di bidang regulasi harus diselesaikan,” kata Ketua Pelaksana Indah Dwi Qurbani di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Selasa, 18 September 2018

Indah bilang banyak regulasi dan perencanaan daerah yang tak sejalan dengan aturan pemerintah pusat. Juga, masih banyak kewenangan yang tumpang tindih.

Konferensi yang diinisiasi Fakultas Hukum UB dan mendatangkan praktisi internasional itu ingin membandingkan pengelolaan kebijakan energi Indonesia dengan negara-negara maju. Hasilnya bakal jadi rekomendasi kepada pemerintah untuk bisa diimplementasikan di Tanah Air.

“Kita akan compare terkait proses perizinan pertambangan terutama yang selama ini menjadi concern di level lokal,” jelas dia.

Selain Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman yang hadir sebagai keynote speaker, praktisi kenamaan seperti Raphael Heffron dari pusat kajian hukum energi Universitas Dundee Inggris juga menyemarakkan konferensi tersebut.

Selain itu, hadir pula John Southalan dari Universitas Western Australia, Piti Eiamchamroonlarp dari hukum administrasi atau perizinan Chulalongkorn Thailand, serta Choong Yeow Choy dari Universitas Malaya Malaysia.

Nuhfil menjelaskan, kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya, dalam rangka Dies Natalis Uni­versitas Brawijaya ke-56 dan Dies Natalis Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ke-61. SB/eko/E-3