Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya (PSP UB) menyelenggarakan acara “Focus Group Discussion Forum Komunikasi Batu Mulia Nusantara” pada 16 November 2017 di Auditorium Lantai 6 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.  Selain FGD tersebut, ada juga “Pameran Batu Mulia serta Keris dari Kerajaan Singhasari dan Majapahit”. Tema yang akan diangkat dalam kegiatan kali ini adalah “Geliat Batu Mulia Nusantara Berawal dari Keluhuran Singhasari dan Kejayaan Majapahit” Acara ini menghadirkan narasumber-narasumber ternama di bidangnya, antara lain Agus Hendratno dari Departemen Teknik Geologi FT, UGM, Nanang Rachmat Zakaria dari Garuda Khatulistiwa Malang, Eka Maulana, S.T., M.T.Eng. dari Dosen Elektro UB, dan lain lain. Dalam kesempatannya, acara ini di sambut oleh Ketua Pusat Studi Peradaban Dr. Moh. Fadli, S.H., M.Hum., Wakil Rektor 1: Prof. Dr. Kusmartono, Wakil Dekan 1 Dr. Prija Djatmika, S.H., M.S., dan ketua LPPM di bidang penelitian Dr. Sugiyono, beliau menyampaikan pada tahun ini telah dilakukannya kerjasama oleh Bapak Rektor UB dengan Bapak Walikota Malang tentang pemanfaatan batu alam untuk cangkir minum yang melibatkan berbagai jurusan seperti fakultas teknik, sosial, dan kedokteran, sehingga ada sentuhan teknologi yang dapat difungsikan sebagai hibah penelitian dan mewadahi riset Batu Mulia. Batu mulia ini sangat berharga. Di era kerajaan dan kesultanan dahulu batu menjadi media komunikasi peradaban bahkan alat legitimasi. Sumber kekayaan alam ini harus dijaga dan dilestarikan untuk menjaga kedaulatan sumber daya alam mineralogi. Kemudian

Wakil Rektor I Prof. Dr. Kusmartono mengatakan, “keberadaan batu mulia di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Masyarakat belum sadar pentingnya batu mulia. Padahal di negara lain seperti di Inggris, Jerman, dan negara maju lainnya, batu mulia banyak diteliti, dibukukan, dan dibuatkan museum. Padahal batu mulia ini bisa dilaksanakan sebagai fungsi dan kegunaan yaitu, sebagai alat perhiasan, dan industri” ungkapnya. Sehingga batu mulia merupakan kekuatan supranatural yang dipakai sebagai mahkota perhiasan yang sering dipakai oleh kerajaan, kekayaan terbesar di Indonesia yang di pakai oleh kerajaan di Nusantara seperti di Jawa, DIY, Kalimantan, Aceh, Sumatera, Sulawesi, NTB dan lain-lain.

Kekayaan alam Indonesia sungguh luar biasa. Ia bersama tim Pusat Studi Peradaban UB telah meneliti dari Banyuwangi sampai Cikotok. Dimana daerah penghasil tambang tersebut banyak dimanfaatkan oleh perusahaan asing.

“Batu-batuan yang dianggap tidak bernilai di negeri ini disertifikasi di negeri orang dan harganya melonjak beratus kali lipat. Apabila kita dapat memaksimalkan potensi  dan mengangkat citra batu mulia sebagai strategi mempertahankan kembali kedaulatan sumber daya alam Indonesia, saya optimis ke depan akan membanggakan negeri ini,” kata Fadli.

“UB berkomitmen untuk terus mengembangkan riset mineralogi dan metalurgi karena merupakan aset bangsa. Kedepan akan dibuka program studi Mineralogi dan Metalurgi, namun akan diawali dengan Program Minat. Hal ini untuk meningkatkan peran akademisi dalam bidang mineralogi dan metalurgi, karena akademisi yang memelopori riset batu mulia masih sangat sedikit,” jelas rektor.

Dalam kesempatan ini, UB mendapat hibah batu mulia nusantara dari komunitas Garuda Khatulistiwa sebanyak satu ton. Bebatuan tersebut berasal dari seluruh pelosok Indonesia dan merupakan symbol embrio Museum Batu Mulia Nusantara UB dan Lembaga Lisensi Batu Mulia UB. [FHM/Humas]